Pages

Friday, November 8, 2013

Coba buat gue marah..!

via : weheartit
Okey judul diatas mungkin terkesan sangat provokatif di telinga beberapa orang.. Mungkin ada yang berpikir gue tipikal orang songong yang merasa tak pernah marah, atau mungkin ada juga yang berpikir bahwa gue tipikal orang yang emang dari sananya gak punya perasaan atau mari sebut saja gue mungkin makhluk feeling-less.. So karena beberapa orang mungkin berpikir gue gak punya perasaan maka otomatis gue juga gak akan merasakan sakit, sedih, gentar, takut, kesal, duka, dan laen laen tambahin sendiri sesuka kalian masing2.. Tul ga?? !

Well, sebenarnya gak seperti itu juga sih.. Gue deklarasikan dengan sebenar-benarnya (ehem, tolong dibaca dengan seksama) gue itu bukan makhluk feeling-less … nah berhubung gue ini ternyata masih satu spesies ama kalian yang sama-sama normal a.k.a manusia biasa jadi gue juga sama seperti kalian yang terkadang masih bisa merasakan salah satu bentuk emosi bernama "MARAH" tapi bedanya adalah gue memilih untuk tidak marah.. Waktu kecil, mungkin gue pernah marah tapi seingat gue sejak berusia 17tahun gue gak pernah marah.. Gue gak mau marah karena efek sebuah artikel tentang kakek-kakek yang sangat pemaaf dan sejak saat itu gue jadi sangat terinspirasi dengan kisah beliau.. (sok dibuka kisahnya si kakek pemaaf - bakal gue buat postingannya tapi nanti ya ^.^ ntar dikasi linknya okeh okeh..)

Ya, ya, ya gue tahu kedengarannya sok banget (mungkin ada juga dari kalian yang gak pernah marah seumur hidupnya) tapi inilah yang emang gue alami.. Bukannya gue udah mencapai puncak self esteem, hanya saja gue terlalu malas membiarkan kemarahan berleha-leha di waktu hidup gue yang indah ini.. Setiap ada orang yang nanya "kenapa sih lu gak pernah marah?" gue selalu jawab "malas aja, buang buang energi".. Nah sekarang gue lagi baca sebuah buku dan salah satu bab di dalamnya membahas tentang kemarahan. Di buku ini dituliskan bahwa salah satu pemicu dari kemarahan kita kebanyakan adalah pengharapan yang tak sampai.. Well, sejauh ini gue setuju banget, mungkin karena gue jarang ngarep tentang sesuatu hal hasilnya ngebuat gue jauh lebih bersyukur dengan apa yang didapat.. Atau mungkin juga karena pengharapan yang gue inginkan bukanlah sesuatu yang mustahil jadi hasilnya pasti gak jauh beda antara kenyataan dan hasilnya..


Berhentilah menjadi penikmat amarah
Yuniar C. Th. Johansz